Mawar: Duuuuh pusing deh, kemana-mana ga boleh, kumpul sama temen harus selalu bareng dia. Pasword facebook juga dia yang pegang, alasannya takut saya macem-macem ceunah?
Saya: hmm, memang cerita yang seperti ini klasik. Tapi coba perhatikan: sikap posesif biasanya lahir (atau timbul) dari perasaan takut kehilangan. Perasaan takut kehilangan biasanya lahir dari perasaan memiliki. Jadi dalam beberapa hal, segalanya memang berjalan alamiah. Karena itu, barangkali, agar kita tidak menjadi posesif, kita harus sadar bahwa cinta adalah menyoal memberi, dan bahwa kekasih kita bukanlah seseorang yang kita miliki, melainkan lebih daripada itu, seseorang yang kita beri kasih sayang. Memang ‘keikhlasan’ semacam ini, bahwa cinta adalah saling memberi dan bukannya saling memaksa, saling merenggut, menjadi agak sulit, bahkan bagi sebagian orang terkesan utopis. Letto bilang dalam salah satu lagunya, “Merasa kehilangan hanya akan ada, bila kau pernah merasa memilikinya.”
Posesif sendiri, akibatnya, bisa digambarkan dalam sebuah percobaan fisika sederhana: menekan mangkuk terbalik ke dalam air. Semakin keras kamu menekan mangkuk itu, semakin keras pula usaha sang mangkuk dalam melawan. Kan begitu? Nah posesif juga demikian: semakin posesif seorang kekasih, semakin mendorong pasangannya untuk ‘melawan’. Perlawanan itu bisa berupa, kemudahan terjadi perselisihan, atau bahkan perselingkuhan.
Apalagi jika dalam hubungan itu terjadi kegiatan-kegiatan yang sebetulnya, baik secara moral agama maupun budaya ketimuran kita, dilarang. Semakin ‘jauh’ batas wilayah itu dilewati, akan semakin rentan pula hadirnya gejala yang lebih buruk dari sekedar posesif, yakni paranoid state. Ketika misalnya, kamu ‘biasa’ berciuman dengan pacar kamu, maka ketika dia bersama teman-teman cowoknya, akan ada pikiran begini: dengan saya saja dia biasa ciuman, bagaimana kalau begitu juga dia dengan kawan-kawannya?
Nah, kamu boleh menganalogikannya ke dalam hal yang lebih jauh.
Apa yang dialami Mawar, dialami juga oleh banyak pasangan belia. Tapi entah dengan yang terjadi padamu. Apa juga begitu?
Senin, 20 Juni 2011
Kang Irfan, Menurut Ramalan Saya Tidak Akan Berjodoh dengan Pacar Saya. Bagaimana ini?
Dua orang yang curhat kepada saya mengenai masalah ini. Mawar I, dia berkata telah diramal oleh dua orang sekaligus, pertama tukang sol sepatu misterius, dan kedua sahabat neneknya yang sedikit berlabel paranormal. Sedangkan Mawar 2, yang cenderung mudah terpengaruh, merasa kesal, saat seorang lelaki dewasa, sahabat keluarganya, berkata bahwa jika dia menikah dengan pacarnya yang sekarang, dia akan hidup melarat.
Jawaban saya sederhana, (1) ramalan itu bisa disebut prediksi. Dalam beberapa hal ramalan atau dalam bahasa Inggrisnya “Forecasting” memang biasa dilakukan dalam rangka mengantisipasi keserbamungkinan di masa yang akan datang. Perusahaan-perusahaan juga melakukan yang demikian. Dalam taraf kecil, kita juga melakukan. Misalkan, awan mendung, kemudian kita memprediksi bahwa hujan akan turun, dengan demikian kita pergi bekerja membawa payung. Jadi prediksi adalah praduga kita mengenai kemungkinan di masa depan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi hari ini. Tapi catat: segalanya belum tentu seratus persen benar, oke?
Nah, kedua, ramalan hanya akan menjadi kenyataan bila kita memilih untuk mempercayainya. Adalah bagus sekaligus menarik pemaparan Deddy Corbuzier dalam bukunya Mantra mengenai pembahasan ramalan seperti ini. Dia bilang, seseorang yang diramalkan akan berjodoh dengan bule, pada akhirnya melalui pilihan-pilihan (baik yang sadar maupun a-sadar) akan cenderung berusaha untuk mewujudkan ramalan tersebut. Jadi ketika dia “percaya” bahwa jodohnya adalah orang bule, maka dia hanya akan “melihat” orang bule dan bukannya produk lokal sebagai incaran jodohnya. Begitulah, maka kemungkinan menjadi kenyataan menjadi besar. Bukan karena ketepatan ramalannya, melainkan karena keyakinan si orang tersebut bahwa jodohnya memang seorang bule. Ini yang harus diperhatikan, oke?
Ketiga, apa yang bisa kita ambil dari kejadian ini? Setidak-tidaknya sebuah hal mendasar mengenai moral: jangan berlebihan dalam menjalin hubungan percintaan itu, karena belum tentu dia memang yang terbaik. Batasan-batasan yang ditetapkan—entah oleh agama maupun norma—memang ditujukan agar tercipta kedamaian dalam diri kita semua. Laki-laki pandai menjanjikan pernikahan, jadi sebelum itu benar-benar terwujud, jangan seratus persen percaya, jangan lantas menyerahkan segala-galanya.
Mawar: tapi bagaimana kalau ternyata benar?
Saya: Setidak-tidaknya begini sajalah, imbangi dengan doa: ya Allah, Engkau Maha Mengetahui mengenai ramalan itu. Sepenuhnya aku berserah. Jika dia memang yang terbaik buatku, aku bersyukur. Tapi jika bukan, lapangkan dan terangkan hatiku agar bisa menerima keputusan-Mu. Karena yang baik menurut-Mu, baik pula menurutku. Dan begitu juga sebaliknya. Namun demikian, jika aku boleh sedikit berharap, tentu akan membahagiakan jika siapa yang terbaik menurut-Mu, adalah yang terbaik pula menurut-Ku. Amien.
Begitulah.
Jawaban saya sederhana, (1) ramalan itu bisa disebut prediksi. Dalam beberapa hal ramalan atau dalam bahasa Inggrisnya “Forecasting” memang biasa dilakukan dalam rangka mengantisipasi keserbamungkinan di masa yang akan datang. Perusahaan-perusahaan juga melakukan yang demikian. Dalam taraf kecil, kita juga melakukan. Misalkan, awan mendung, kemudian kita memprediksi bahwa hujan akan turun, dengan demikian kita pergi bekerja membawa payung. Jadi prediksi adalah praduga kita mengenai kemungkinan di masa depan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi hari ini. Tapi catat: segalanya belum tentu seratus persen benar, oke?
Nah, kedua, ramalan hanya akan menjadi kenyataan bila kita memilih untuk mempercayainya. Adalah bagus sekaligus menarik pemaparan Deddy Corbuzier dalam bukunya Mantra mengenai pembahasan ramalan seperti ini. Dia bilang, seseorang yang diramalkan akan berjodoh dengan bule, pada akhirnya melalui pilihan-pilihan (baik yang sadar maupun a-sadar) akan cenderung berusaha untuk mewujudkan ramalan tersebut. Jadi ketika dia “percaya” bahwa jodohnya adalah orang bule, maka dia hanya akan “melihat” orang bule dan bukannya produk lokal sebagai incaran jodohnya. Begitulah, maka kemungkinan menjadi kenyataan menjadi besar. Bukan karena ketepatan ramalannya, melainkan karena keyakinan si orang tersebut bahwa jodohnya memang seorang bule. Ini yang harus diperhatikan, oke?
Ketiga, apa yang bisa kita ambil dari kejadian ini? Setidak-tidaknya sebuah hal mendasar mengenai moral: jangan berlebihan dalam menjalin hubungan percintaan itu, karena belum tentu dia memang yang terbaik. Batasan-batasan yang ditetapkan—entah oleh agama maupun norma—memang ditujukan agar tercipta kedamaian dalam diri kita semua. Laki-laki pandai menjanjikan pernikahan, jadi sebelum itu benar-benar terwujud, jangan seratus persen percaya, jangan lantas menyerahkan segala-galanya.
Mawar: tapi bagaimana kalau ternyata benar?
Saya: Setidak-tidaknya begini sajalah, imbangi dengan doa: ya Allah, Engkau Maha Mengetahui mengenai ramalan itu. Sepenuhnya aku berserah. Jika dia memang yang terbaik buatku, aku bersyukur. Tapi jika bukan, lapangkan dan terangkan hatiku agar bisa menerima keputusan-Mu. Karena yang baik menurut-Mu, baik pula menurutku. Dan begitu juga sebaliknya. Namun demikian, jika aku boleh sedikit berharap, tentu akan membahagiakan jika siapa yang terbaik menurut-Mu, adalah yang terbaik pula menurut-Ku. Amien.
Begitulah.
Sabtu, 18 Juni 2011
Kang Irfan, Emang Kalau Nangis itu Cengeng ya?
Kang Irfan, Emang Kalau Nangis itu Cengeng ya?
Mawar: Kang Irfan, emang kalau kita dapet masalah trus nangis, nggak boleh ya? Apalagi kalau cowok. Gitu ya?
Saya: Ah nggak juga. Saya kadang juga suka nangis. Rasulullah saja suka nangis. Kenapa nangis dilarang? Begini: saya selalu berpendapat kalau ketika kita tertimpa masalah, kita sebetulnya menghadapi dua hal. “Masalah” itu sendiri dan “Efek dari Masalah” kita.
Ambil contoh: putus dengan pacar.
Masalah: putus dengan pacar.
Efek: Sedih, Kecewa, Marah.
Nah, nangis memang tidak akan mengubah keadaan, atau tidak akan menyelesaikan masalah. Kita bukan Nobita dan Doraemon juga hanya tokoh khayalan. Jadi satu-satunya cara menyelesaikan masalah adalah menghadapi masalah kita, menyusun strategi agar kita bisa mengalahkannya!
Namun demikian, menangis juga berfungsi dalam hal menetralisir atau paling tidak mengurangi efek dari masalah itu. Misalkan, kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan kita bisa sedikit ternetralisir dengan tangisan itu. Beberapa kali teman perempuan curhat kepada saya mengenai hal-hal semacam ini, dan saya selalu membiarkan mereka menangis. Cenderung menyuruh. Dengan begitu, kadang-kadang setelah lelah menangis, dia berkata, “Yah, mungkin memang belum jodoh....” Dan seterusnya.
Efek masalah itu seperti kabut, membuat kita tidak bisa melihat dengan JELAS masalah kita. Dengan tangis, kabut itu perlahan surut dan masalahpun terlihat JELAS. Hanya saja, sebagai catatan, jangan hanya lantas usaha kita berhenti di prosesi “MENANGIS(I)” saja. Alih-alih, prosesi menangis harus dijadikan tumpuan untuk kita mendapat kekuatan lebih dalam menyelesaikan masalah.
Jeane Webster bilang, “Boleh menangis, tapi tentukan batas waktunya. Jika batas waktu itu telah habis, maka kita harus komit terhadap diri sendiri untuk tidak lagi menangis dan mulai menghadapi masalah kita, apapun itu.” Karena, hidup harus terus berjalan.... Bagaimana menurutmu?
Mawar: Kang Irfan, emang kalau kita dapet masalah trus nangis, nggak boleh ya? Apalagi kalau cowok. Gitu ya?
Saya: Ah nggak juga. Saya kadang juga suka nangis. Rasulullah saja suka nangis. Kenapa nangis dilarang? Begini: saya selalu berpendapat kalau ketika kita tertimpa masalah, kita sebetulnya menghadapi dua hal. “Masalah” itu sendiri dan “Efek dari Masalah” kita.
Ambil contoh: putus dengan pacar.
Masalah: putus dengan pacar.
Efek: Sedih, Kecewa, Marah.
Nah, nangis memang tidak akan mengubah keadaan, atau tidak akan menyelesaikan masalah. Kita bukan Nobita dan Doraemon juga hanya tokoh khayalan. Jadi satu-satunya cara menyelesaikan masalah adalah menghadapi masalah kita, menyusun strategi agar kita bisa mengalahkannya!
Namun demikian, menangis juga berfungsi dalam hal menetralisir atau paling tidak mengurangi efek dari masalah itu. Misalkan, kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan kita bisa sedikit ternetralisir dengan tangisan itu. Beberapa kali teman perempuan curhat kepada saya mengenai hal-hal semacam ini, dan saya selalu membiarkan mereka menangis. Cenderung menyuruh. Dengan begitu, kadang-kadang setelah lelah menangis, dia berkata, “Yah, mungkin memang belum jodoh....” Dan seterusnya.
Efek masalah itu seperti kabut, membuat kita tidak bisa melihat dengan JELAS masalah kita. Dengan tangis, kabut itu perlahan surut dan masalahpun terlihat JELAS. Hanya saja, sebagai catatan, jangan hanya lantas usaha kita berhenti di prosesi “MENANGIS(I)” saja. Alih-alih, prosesi menangis harus dijadikan tumpuan untuk kita mendapat kekuatan lebih dalam menyelesaikan masalah.
Jeane Webster bilang, “Boleh menangis, tapi tentukan batas waktunya. Jika batas waktu itu telah habis, maka kita harus komit terhadap diri sendiri untuk tidak lagi menangis dan mulai menghadapi masalah kita, apapun itu.” Karena, hidup harus terus berjalan.... Bagaimana menurutmu?
Kang Irfan, Ortu Saya Cerai, Saya Harus Ikut Siapa?
Ujang: Fan, teman saya curhat kalau ortunya cerai. Terus dia tanya sama saya, dia harus ikut siapa?
Saya: Memang selalu agak dilematis. Sebelum membantu memberi saran, saya harus tahu terlebih dahulu, (1) latar belakang penyebab perceraian, (2) kecenderungan hati teman Kang Ujang lebih kepada ayah ataukah ibu, (3) efek kalau temannya itu (mari kita anggap Mawar) memlih ayah atau memilih ibu, apa? Baik bagi salah satu orangtuanya, maupun dia sendiri.
Karena, dengan tahu latar belakang penyebab perceraian, kita akan tahu siapa diantara kedua orang tua Mawar yang lebih siap mengasihi, menyayangi, dan mengayomi Mawar. Jika perceraian diakibatkan suami yang selingkuh atau suka memukuli misalkan, tentu Mawar lebih baik ikut ibunya. Atau kedua, kata hati Mawar. Bagian ini menyangkut hadist Rasul, bahwa firasat seorang mukmin adalah cahaya Allah (Mukhtarol Hadist). Barangkali ‘sejalan’ juga dengan teori Otak Tengah yang sekarang ramai dan kontroversial itu, ataupun mengenai konsep intuisi. Bisa dicek gi google ya tentang keduanya... hehehe
Pada poin ketiga, kita akan melihat mana yang kira-kira bisa menjadi pilihan yang sama-sama menguntungkan. Hal ini bisa dilihat dari efek pemilihan itu. Untuk mengetahui efek atau ‘kemungkinan efek’ itu kita bisa tahu dari cerita mengenai latar belakang perceraian, watak orang tua, budaya keluarga, konteks lingkungan. Dan hal itu saya perlu melakukan anamnesis terlebih dahulu. Ngobrol lebih jauh. Bagaimana?
Setelah menunggu beberapa lama, Kang Ujang membalas sms saya: Kang Irfan, kata dia, lebih baik dia ikut saya ceunah, daripada ikut kedua orang tuanya. Hahahaha.
Saya: beuuuuuuuh, nanti terjadi hal-hal yang diinginkan dong?
Ujang: ahahahaha....
Masalah ini belum terpecahkan. Tapi semoga kawan dapat mengambil manfaat. Salam.
Saya: Memang selalu agak dilematis. Sebelum membantu memberi saran, saya harus tahu terlebih dahulu, (1) latar belakang penyebab perceraian, (2) kecenderungan hati teman Kang Ujang lebih kepada ayah ataukah ibu, (3) efek kalau temannya itu (mari kita anggap Mawar) memlih ayah atau memilih ibu, apa? Baik bagi salah satu orangtuanya, maupun dia sendiri.
Karena, dengan tahu latar belakang penyebab perceraian, kita akan tahu siapa diantara kedua orang tua Mawar yang lebih siap mengasihi, menyayangi, dan mengayomi Mawar. Jika perceraian diakibatkan suami yang selingkuh atau suka memukuli misalkan, tentu Mawar lebih baik ikut ibunya. Atau kedua, kata hati Mawar. Bagian ini menyangkut hadist Rasul, bahwa firasat seorang mukmin adalah cahaya Allah (Mukhtarol Hadist). Barangkali ‘sejalan’ juga dengan teori Otak Tengah yang sekarang ramai dan kontroversial itu, ataupun mengenai konsep intuisi. Bisa dicek gi google ya tentang keduanya... hehehe
Pada poin ketiga, kita akan melihat mana yang kira-kira bisa menjadi pilihan yang sama-sama menguntungkan. Hal ini bisa dilihat dari efek pemilihan itu. Untuk mengetahui efek atau ‘kemungkinan efek’ itu kita bisa tahu dari cerita mengenai latar belakang perceraian, watak orang tua, budaya keluarga, konteks lingkungan. Dan hal itu saya perlu melakukan anamnesis terlebih dahulu. Ngobrol lebih jauh. Bagaimana?
Setelah menunggu beberapa lama, Kang Ujang membalas sms saya: Kang Irfan, kata dia, lebih baik dia ikut saya ceunah, daripada ikut kedua orang tuanya. Hahahaha.
Saya: beuuuuuuuh, nanti terjadi hal-hal yang diinginkan dong?
Ujang: ahahahaha....
Masalah ini belum terpecahkan. Tapi semoga kawan dapat mengambil manfaat. Salam.
Minggu, 12 Juni 2011
Kang Irfan, Saya Nembak Cewek Tapi Digantung
Ujang: saya sudah menyatakan cinta saya dan kemudian dia tidak menolak juga tidak mengiyakan, hanya bilang masih trauma. Dan hati saya terasa hampa.
Dear Ujang
Pertama, wajar kalau kamu ngerasa hampa, karena bagaimanapun cinta bertepuk sebelah tangan adalah hal yang mengiriskan hati dan perasaan. Kehampaan itu lebih disebabkan oleh ketidakterpenuhinya hasrat hati kamu. Ibarat tepuk tangan, dia hanya akan mengeluarkan suara jika dilakukan oleh lebih dari satu belah tangan. Satu belah tangan menepuk tanpa disambut tangan yang satu lagi tak menghasilkan apa-apa, hanya kekosongan.
Namun begitu, kedua, ini bisa jadi ujian. Perempuan itu ingin diperjuangkan. Mereka ingin dianggap berharga. Mereka ingin dicintai dan dimengerti. Mereka ingin melihat kesungguhan kita. Karena itu, yang harus kamu lakukan adalah bahwa kamu bisa memberikan kesungguhan itu. Bahwa dia tidak akan salah pilih. Cinta dan komitmen harus seiring sejalan. Perselingkuhan atau pelanggaran terhadap komitmen akan menjadi rasa sakit yang bisa jadi tak bisa hilang.
Seorang lelaki haruslah mampu membuktikan komitmennya. Dan bukti cinta dan komitmen seorang lelaki terhadap seorang perempuan, katanya sih, adalah ketika lelaki itu siap menikah dengan si perempuan. :-) Bagaimana menurutmu?
Dear Ujang
Pertama, wajar kalau kamu ngerasa hampa, karena bagaimanapun cinta bertepuk sebelah tangan adalah hal yang mengiriskan hati dan perasaan. Kehampaan itu lebih disebabkan oleh ketidakterpenuhinya hasrat hati kamu. Ibarat tepuk tangan, dia hanya akan mengeluarkan suara jika dilakukan oleh lebih dari satu belah tangan. Satu belah tangan menepuk tanpa disambut tangan yang satu lagi tak menghasilkan apa-apa, hanya kekosongan.
Namun begitu, kedua, ini bisa jadi ujian. Perempuan itu ingin diperjuangkan. Mereka ingin dianggap berharga. Mereka ingin dicintai dan dimengerti. Mereka ingin melihat kesungguhan kita. Karena itu, yang harus kamu lakukan adalah bahwa kamu bisa memberikan kesungguhan itu. Bahwa dia tidak akan salah pilih. Cinta dan komitmen harus seiring sejalan. Perselingkuhan atau pelanggaran terhadap komitmen akan menjadi rasa sakit yang bisa jadi tak bisa hilang.
Seorang lelaki haruslah mampu membuktikan komitmennya. Dan bukti cinta dan komitmen seorang lelaki terhadap seorang perempuan, katanya sih, adalah ketika lelaki itu siap menikah dengan si perempuan. :-) Bagaimana menurutmu?
Kang Irfan, Kenapa Sih Hidup Saya Kayak Gini?
Dear Mawar,
Yang harus kita sadari bahwa sifat hidup itu sederhana: kita tidak bisa mengubah skenario dasar kehidupan kita, namun soal bagaimana skenario itu berkembang dan berakhir, kita punya 'kekuasaan' untuk mengubahnya. Dalam beberapa hal, kita cenderung menjadi tidak arif. Kita hanya 'melihat' hal-hal yang kelihatan 'baik' dan 'bagus' dan 'hebat' pada kehidupan orang lain, sehingga kita cenderung iri dan tidak mensyukuri skenario dasar kehidupan kita.
Ah ya, lupa, yang termasuk skenario dasar itu adalah: siapa orang tua kita, apa jenis kelamin kita, bagaimana bentuk wajah kita, sifat dasar kita, bakat alami kita, lingkungan kita, dan seterusnya. Dalam penentuan skenario dasar itu kita tidak memiliki kekuasaan memilih. Namun demikian, satu hal yang pasti, bahwa ketika Tuhan memilihkan satu skenario kehidupan untuk salah seorang hamba-Nya, itu sudah melalui perhitungan yang Maha Matang: Dia menentukan 'kita' sebagai 'kita' karena kita hanya akan mampu hidup sebagai 'kita'.
Karena setiap hidup adalah tantangan, maka keharusan kita hanyalah menjawab dan mengalahkan tantangan itu. Selalu meratapi apa yang 'tidak sesuai menurut kita' dalam hidup kita hanya akan membuat kita jalan di tempat, bahkan cenderung mundur. Perhatikan, setiap pemenang, setiap juara berhasil mengalahkan 'tantangan' dan 'lawan' mereka, tak peduli seperti apapun tantangan itu.
Seorang santri pernah curhat sama saya: aduh Kang, saya mah susah ngapalin alfiah karena harus ngurus keponakan saya. Dalam hati, saya bilang: saya juga harus bekerja setiap hari dan nyuri-nyuri waktu untuk mengaji di sela kesibukan saya juga menulis buku. Tapi saya bisa, karena saya mau, karena saya ngotot. Jadi bukankah daripada terus mempermasalahkan 'kenapa sih masalah ini harus terjadi sama saya?' atau 'kenapa sih hidup saya kayak gini?' bukankah lebih baik, 'Nah, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa mengalahkan tantangan ini?' Dua pertanyaan pertama hanya menimbulkan keluh kesah. Pertanyaan terakhir mendorong kamu menemukan cara, menemukan strategi, menemukan jalan. :-)
Semangat menghidupi kehidupan!
Yang harus kita sadari bahwa sifat hidup itu sederhana: kita tidak bisa mengubah skenario dasar kehidupan kita, namun soal bagaimana skenario itu berkembang dan berakhir, kita punya 'kekuasaan' untuk mengubahnya. Dalam beberapa hal, kita cenderung menjadi tidak arif. Kita hanya 'melihat' hal-hal yang kelihatan 'baik' dan 'bagus' dan 'hebat' pada kehidupan orang lain, sehingga kita cenderung iri dan tidak mensyukuri skenario dasar kehidupan kita.
Ah ya, lupa, yang termasuk skenario dasar itu adalah: siapa orang tua kita, apa jenis kelamin kita, bagaimana bentuk wajah kita, sifat dasar kita, bakat alami kita, lingkungan kita, dan seterusnya. Dalam penentuan skenario dasar itu kita tidak memiliki kekuasaan memilih. Namun demikian, satu hal yang pasti, bahwa ketika Tuhan memilihkan satu skenario kehidupan untuk salah seorang hamba-Nya, itu sudah melalui perhitungan yang Maha Matang: Dia menentukan 'kita' sebagai 'kita' karena kita hanya akan mampu hidup sebagai 'kita'.
Karena setiap hidup adalah tantangan, maka keharusan kita hanyalah menjawab dan mengalahkan tantangan itu. Selalu meratapi apa yang 'tidak sesuai menurut kita' dalam hidup kita hanya akan membuat kita jalan di tempat, bahkan cenderung mundur. Perhatikan, setiap pemenang, setiap juara berhasil mengalahkan 'tantangan' dan 'lawan' mereka, tak peduli seperti apapun tantangan itu.
Seorang santri pernah curhat sama saya: aduh Kang, saya mah susah ngapalin alfiah karena harus ngurus keponakan saya. Dalam hati, saya bilang: saya juga harus bekerja setiap hari dan nyuri-nyuri waktu untuk mengaji di sela kesibukan saya juga menulis buku. Tapi saya bisa, karena saya mau, karena saya ngotot. Jadi bukankah daripada terus mempermasalahkan 'kenapa sih masalah ini harus terjadi sama saya?' atau 'kenapa sih hidup saya kayak gini?' bukankah lebih baik, 'Nah, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa mengalahkan tantangan ini?' Dua pertanyaan pertama hanya menimbulkan keluh kesah. Pertanyaan terakhir mendorong kamu menemukan cara, menemukan strategi, menemukan jalan. :-)
Semangat menghidupi kehidupan!
Jumat, 10 Juni 2011
Kang Irfan, Setelah Menikah Saya Jadi Punya Banyak Hutang.
Dear Ujang,
Memang pernikahan bukanlah semata mengenai menyatukan dua sejoli. Tapi lebih dari itu, juga menyatukan dua kepribadian, dua dunia, dua karakter, dua kebiasaan, persamaan dan perbedaan. Bahkan, jika dirunut lebih jauh juga menyangkut perbedaan karakter keluarga, karakter masyarakat tempat tinggal, dan seterusnya. Dari semua masalah yang biasa terjadi dalam pernikahan, masalah yang dimulai dari makhluk bernama UANG, memang tidak kalah memusingkan.
Buktinya, banyak orang yang bercerai karena masalah ekonomi. Entah karena lupa diri gara-gara kebanyakan uang ataupun tak kuat sabar karena keserbakurangan uang. Karena itu, penting untuk mengkomunikasikan masalah uang dengan baik antara pasangan suami istri. Keterbukaan dan kejujuran serta kerjasama pengelolaan uang memang mutlak diperlukan.
Pada kasus Kang Ujang yang satu ini, dia menggunakan seluruh penghasilannya untuk membiayai keluarga, sedangkan penghasilan istri tidak disentuh sama sekali. Selain itu, pengelolaan uang juga tidak menggunakan prinsip pengelolaan uang yang sehat, sehingga wajar apabila Kang Ujang sampai harus gali lubang dan kesulitan menutupnya.
Beberapa saran yang bisa disampaikan adalah:
1. Komunikasikan dengan istri, bagaimana sebaiknya pengelolaan uang bersama. Sehingga tidak timbul perselisihan gara-gara penghasilan suami yang dipakai habis, sedangkan penghasilan istri tidak bisa disentuh sama sekali. Kesepakatan dari poin ini bisa sangat mempengaruhi. Entah apakah kesepakatan itu berupa (1) penghasilan suami saja yang digunakan dan penghasilan istri tidak boleh, (2) penghasilan bersama dikelola bersama secara terbuka, ataukah (3) penghasilan istri saja yang dipakai dan yang suami tidak boleh, yang penting kesepakatan itu harus dirasa adil oleh kedua belah pihak (win win solution).
2. Kelolalah uang dalam rumah tangga dengan menggunakan prinsip keuangan yang sehat. Normalnya, hanya 80% saja dari total penghasilan yang 'boleh' digunakan untuk keperluan sehari-hari dan cicilan-cicilan. Sisa 20% ditabung atau diinvestasikan sesuai kebutuhan. Kamu bisa menggunakan jasa perencana keuangan jika kamu merasa tidak mampu mengaturnya sendirian. Atau bisa juga dengan membeli buku-buku perencanaan keuangan (saat ini banyak yang beredar dengan menggunakan bahasa populer sehingga mudah dimengerti), atau bisa cek di beberapa website seperti: www.perencanakeuangan.com atau www.danareksaonline.com atau keuangankeluarga.blogspot.com.
3. Kamu harus cerdas memilih kebutuhan dan keperluan hidup. Karena kebutuhan itu terbagi ke dalam empat jenis:
(1) Penting dan Mendesak seperti kebutuhan makan dan minum
(2) Tidak Penting tapi Mendesak seperti membeli boneka untuk kado ulang tahun.
(3) Penting dan Tidak Mendesak seperti kebutahan dana pendidikan anak.
(4) Tidak Penting Tidak Mendesak seperti ganti motor.
Lebih jelas bisa tengok di http://books.google.co.id/books?id=Gu290Clg6G8C&pg=PA12&lpg=PA12&dq=kebutuhan+tidak+penting+mendesak&source=bl&ots=09U0_nC7J7&sig=W_u_dCoQOW3tHYMnIyZiKRh24oM&hl=id&ei=aizyTeurF4j4rQeDrZX6Bw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CDsQ6AEwBg#v=onepage&q=kebutuhan%20tidak%20penting%20mendesak&f=false
Nah, bagaimana menurut kamu? :-)
Memang pernikahan bukanlah semata mengenai menyatukan dua sejoli. Tapi lebih dari itu, juga menyatukan dua kepribadian, dua dunia, dua karakter, dua kebiasaan, persamaan dan perbedaan. Bahkan, jika dirunut lebih jauh juga menyangkut perbedaan karakter keluarga, karakter masyarakat tempat tinggal, dan seterusnya. Dari semua masalah yang biasa terjadi dalam pernikahan, masalah yang dimulai dari makhluk bernama UANG, memang tidak kalah memusingkan.
Buktinya, banyak orang yang bercerai karena masalah ekonomi. Entah karena lupa diri gara-gara kebanyakan uang ataupun tak kuat sabar karena keserbakurangan uang. Karena itu, penting untuk mengkomunikasikan masalah uang dengan baik antara pasangan suami istri. Keterbukaan dan kejujuran serta kerjasama pengelolaan uang memang mutlak diperlukan.
Pada kasus Kang Ujang yang satu ini, dia menggunakan seluruh penghasilannya untuk membiayai keluarga, sedangkan penghasilan istri tidak disentuh sama sekali. Selain itu, pengelolaan uang juga tidak menggunakan prinsip pengelolaan uang yang sehat, sehingga wajar apabila Kang Ujang sampai harus gali lubang dan kesulitan menutupnya.
Beberapa saran yang bisa disampaikan adalah:
1. Komunikasikan dengan istri, bagaimana sebaiknya pengelolaan uang bersama. Sehingga tidak timbul perselisihan gara-gara penghasilan suami yang dipakai habis, sedangkan penghasilan istri tidak bisa disentuh sama sekali. Kesepakatan dari poin ini bisa sangat mempengaruhi. Entah apakah kesepakatan itu berupa (1) penghasilan suami saja yang digunakan dan penghasilan istri tidak boleh, (2) penghasilan bersama dikelola bersama secara terbuka, ataukah (3) penghasilan istri saja yang dipakai dan yang suami tidak boleh, yang penting kesepakatan itu harus dirasa adil oleh kedua belah pihak (win win solution).
2. Kelolalah uang dalam rumah tangga dengan menggunakan prinsip keuangan yang sehat. Normalnya, hanya 80% saja dari total penghasilan yang 'boleh' digunakan untuk keperluan sehari-hari dan cicilan-cicilan. Sisa 20% ditabung atau diinvestasikan sesuai kebutuhan. Kamu bisa menggunakan jasa perencana keuangan jika kamu merasa tidak mampu mengaturnya sendirian. Atau bisa juga dengan membeli buku-buku perencanaan keuangan (saat ini banyak yang beredar dengan menggunakan bahasa populer sehingga mudah dimengerti), atau bisa cek di beberapa website seperti: www.perencanakeuangan.com atau www.danareksaonline.com atau keuangankeluarga.blogspot.com.
3. Kamu harus cerdas memilih kebutuhan dan keperluan hidup. Karena kebutuhan itu terbagi ke dalam empat jenis:
(1) Penting dan Mendesak seperti kebutuhan makan dan minum
(2) Tidak Penting tapi Mendesak seperti membeli boneka untuk kado ulang tahun.
(3) Penting dan Tidak Mendesak seperti kebutahan dana pendidikan anak.
(4) Tidak Penting Tidak Mendesak seperti ganti motor.
Lebih jelas bisa tengok di http://books.google.co.id/books?id=Gu290Clg6G8C&pg=PA12&lpg=PA12&dq=kebutuhan+tidak+penting+mendesak&source=bl&ots=09U0_nC7J7&sig=W_u_dCoQOW3tHYMnIyZiKRh24oM&hl=id&ei=aizyTeurF4j4rQeDrZX6Bw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CDsQ6AEwBg#v=onepage&q=kebutuhan%20tidak%20penting%20mendesak&f=false
Nah, bagaimana menurut kamu? :-)
Langganan:
Postingan (Atom)