Rabu, 06 Juli 2011

Pada Usia Seperti Saya, Wajar Tidak Kalau Saya Merasa Tidak Diperhatikan Keluarga?

Keluarga adalah pilar penting kehidupan. Tumbuh kembang seorang anak, sangat bergantung pada sikap keluarga dalam mendidiknya. Secara umum, keluarga yang hangat dan penuh kasihlah yang pada akhirnya membantu si anak mendapatkan ‘kestabilan’ mental dalam pergaulan. Anak-anak yang sering dibentak akan mengalami tekanan batin, sehingga kadang terkucil dari pergaulan. Anak-anak yang tidak pernah diberi perhatian, cenderung mencari perhatian di luar. Dari prolog singkat itu, kita sampai pada pertanyaan kawan saya, Mawar, berusia 22-23 tahun. Begini, “Saya pikir keluarga tidak akan menyakiti. Tapi ternyata sama saja. Saya memutuskan untuk kabur!”

“Saya tidak akan melarang kamu untuk kabur, karena itu sepenuhnya hak kamu. Hanya saja, seberapa buruk pun kondisi di rumah, di luar juga belum tentu aman. Saya cuma berharap, langkah apapun yang mau kamu ambil, sudah kamu hitungkan masak-masak risikonya. Bagaimanapun, kan nantinya kamu juga yang ngejalanin hidup kamu, bukan?”

Keesokan harinya, Mawar curhat lagi. Dia tidak jadi kabur, seperti yang saya duga. Dan kemudian bilang: saya tidak jadi kabur, tapi di rumah juga semakin tidak nyaman. Ibu sama ade pada pergi maen, pulang-pulang udah pada kenyang, tapi saya nggak pernah diajakin. Curhat sama pacar saya, dia bilang saya pundungan, kayak anak kecil. Apa benar begitu?”

“Tidak, kan pada dasarnya setiap orang, usia berapapun memiliki kebutuhan untuk ‘disadari’ bahkan ‘dihargai’ keberadaannya. Apalagi oleh keluarga. Karena itu, wajar kalau kamu ngerasa tidak diperhatikan, kalau kamu ngerasa dikucilkan. Yang menjadikan itu sikap yang kekanak-kanakkan adalah ketika, karena perasaan keterkucilan semacam itu, kita jadi mogok makan, nggak mau ngomong, dll. Padahal, kejadian semacam itu bisa kita jadikan pelajaran untuk lebih dewasa. (Bukankah kita semua belajar dari ‘rasa sakit’?)

Coba perhatikan ini: sebetulnya kita tidak memiliki apapun di dunia ini. Bahkan ‘diri’ kita pun milik Tuhan. Jadi apalagi keluarga kita? Mereka juga hanyalah orang-orang ‘asing’. Yang lewat takdir Tuhan memiliki kekerabatan sangat dekat dengan kita. Pada akhirnya, kita hanya harus menyadari bahwa kita tidak boleh terlalu menuntut dan mengharapkan lebih kepada siapapun, termasuk kepada keluarga kita sendiri. Karena bagaimanapun, bahagia tidak boleh digantungkan pada sikap atau tindakan orang lain. Misal, kita hanya akan merasa bahagia kalau keluarga kita memerhatikan kita. Jangan!

Kita harus lebih bisa belajar mensyukuri apa yang ada ketimbang memaksa orang lain untuk melakukan apapun yang kita minta (tanpa rasionalitas). Pada akhirnya, kita harus belajar untuk lebih dewasa. Orang lain boleh menyakiti kita, tapi usahakan kita lebih banyak memberikan kebahagiaan kendati kemuramdurjaan. Orang boleh tak jujur dan adil, tapi menjadi orang yang baik—secara moral—selalu menjadi pilar utama kebahagiaan.

Itu!

Salam 

Doa Saya Hanya Ingin Bahagia, Tapi Allah Malah Memberi Saya Lebih Banyak Air Mata

Tuhan berjanji bahwa jika kita berdoa, Dia pasti mengkabulkan. Tapi doa yang bagaimana? Mari kita lihat:

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa ketika kita berdoa ingin bahagia, sebetulnya hati kita lebih takut untuk sedih, lebih takut untuk terluka. Akibatnya, yang ‘bergerak’ dengan kekuatan yang lebih hebat bukanlah doa yang kita ucapkan dan pikirkan, melainkan ‘ketakutan’ dalam hati yang kita rasakan. Itulah kenapa ketika kita berdoa ingin juara 1, kita malah kalah sejak babak awal.

Karena itu, berdoa harus diiringi perasaan tulus ikhlas, tawakkal, mangga teh teuing. Kecemasan dan ketegangan, bahwa doa kita jangan-jangan tidak akan dikabulkan, hanya akan membuat kecemasan dan ketegangan itu menjadi kenyataan. Karena itu, kakak saya dulu berkata, “Berdoa itu seperti ini saja, Fan: Ya Allah, aku sudah belajar dan menghafal dengan serius. Kini aku serahkan pada-Mu. Aku berharap bisa mendapat rengking 1, tapi Kau lebih Tahu apa yang Baik untukku. Tapi semoga ya Allah, apa yang baik menurutku, juga baik menurut-Mu. Amiin.”

Emha Ainun Najib, cendekiawan Muslim asal Jogja itu menawarkan sebuah persepsi baru. Doa, yang dalam pemahaman sederhana berarti meminta, memohon, dia tawarkan sebagai sebuah bentuk penyapaan. Memang, salah satu padanan kata dari doa—dawa’a—berarti menyapa. Jadi, ketika kita berdoa, ujarnya, anggaplah kita sedang menyapa Tuhan, dengan demikian Tuhan pun akan balas menyapa kita. Bukankah menyapa berarti ‘memberi sapaan’ sedangkan Allah berjanji bahwa yang memberi ‘satu’ akan dibalas ‘sepuluh kali lipat’?

Senada dengan persepsi ini, Erbe Sentanu berkata bahwa ketika kita berdoa, kondisikanlah hati kita seolah segalanya sudah terjadi. Jika kita ingin bisa masuk UNPAD, kondisikanlah hati kita seolah kita sudah berada di sana, seolah apa yang kita ‘minta’ sudah dikabulkan. Dengan perasaan semacam itu, kita akan menjadi lebih tenang dan yakin (bahwa segalanya akan terwujud) sehingga peluang keterwujudannya pun semakin besar.

Ini sejalan dengan hadist Nabi, bahwa doa-doa akan didengarkan, kecuali doa dari hati yang lalai. Hati yang lalai adalah hati yang tidak khusyu ketika berdoa, atau hati yang justru ‘meminta’ kebalikan dari apa yang kita ucapkan. Contohnya seperti tadi, mulut berkata ingin kaya, tapi hati sangat takut jatuh miskin. Maka, tak heran jika yang kedua yang terjadi.

Atau jika tidak, ketidakdikobulan doa, bisa jadi karena: kita tidak memahami cara berdoa yang baik (misalkan tidak diawali dengan bismillah dan hamdallah dan syahadatain dan shalawat) atau karena terhalang dosa-dosa kita (dan dengan demikianlah Allah menyayangi hamba-hamba-Nya). Memang kadang kita bertanya, “Si Anu melakukan dosa lebih besar daripada saya, tapi kenapa doanya dikabulkan?” Sekarang, anggap jika Si Anu memang melakukan dosa lebih besar daripada kita, walau belum tentu benar. Tapi anggap saja seperti itu, tapi kenapa doanya dikabulkan? Usahanya sukses? Karena Tuhan kadang membiarkan orang-orang yang (akibat ketidakmauannya bertobat) telah disesatkan-Nya untuk lebih sesat lewat kesuksesannya itu. Hal ini yang dinamakan istidraj.

Namun begitu, terkadang pengkabulan Allah terhadap doa-doa kita memang unik. Seperti halnya Mawar kita yang satu ini, yang ingin bahagia. Bukankah seseorang bisa (memaknai) arti bahagia setelah merasakan ‘kedukaan’? Bukankah jika seseorang ingin menjadi tentara yang hebat, dia harus dilatih dalam medan dan latihan yang menguras tenaga secara fisik dan mental? Bukankah untuk menjadi pandai kita harus melewati serangkaian proses belajar yang tidak mengenakkan dan ujian-ujian? Bisa jadi air mata, kekesalan dan kedukaan yang menimpa kita, selepas doa kita hanya untuk bahagia, adalah cara Tuhan membuka mata hati kita, sehingga kita bisa lebih mensyukuri dan merasakan kehadiran-Nya dalam hati kita. Kebahagiaan bukankah sesuatu yang terjadi atau menimpa kita. Kebahagiaan adalah bagaimana kita menyikapi segala sesuatu dengan penuh rasa syukur dan ikhlas.

Apa yang kita pikir ‘nasib buruk’ hari ini, bisa jadi adalah pintu yang disediakan Tuhan untuk ‘nasib baik’ esok hari. Tetaplah berprasangka baik pada Tuhan, karena rahmat-Nya melampaui segala sesuatu.

Depresi Terselubung dan Terapinya

Mawar yang satu ini adalah sahabat saya. Memang sudah sejak beberapa waktu yang lalu dia mengeluhkan kesemakinhilangan antusiasme dan minatnya, kemudahan dia merasa marah dan iri kepada teman-temannya yang lebih dulu bekerja, merasa gagal, dan merasa selalu kalah. Pada akhirnya, dia merasa tidak nyaman karena dia mulai sering merasa suudzan. Perasaan ini kemudian melahirkan semacam ketertekanan baru: merasa dikhianati. Seorang temannya yang bekerja di sebuah bank tempat lamaran Mawar kita ini ditolak, ‘secara misterius’ tak pernah lagi membalas sms dan menjawab telepon si Mawar. Kemudian, seorang temannya yang lain, yang justru memasukkan orang lain alih-alih Mawar ke tempat dia bekerja.

“Menurutmu, aku harus gimana?”

“Mengetahui apa yang terjadi pada kita sudah separuh langkah dari solusi. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah mengetahui apa sebetulnya yang menimpamu,” ujar saya. Berdasarkan hasil anamnesis di atas, Mawar kita kemungkinan terserang depresi terselubung. Dari beberapa tekanan batin yang dia rasakan, beberapa diantaranya sangat khas dengan depresi terselubung.

Apa saja memangnya ciri-ciri orang yang terserang depresi terselubung? Menurut Sawitri Supardi Sadarjoen (2005: 216), ciri-ciri orang yang terserang depresi terselubung adalah: kehilangan antusiasme, penurunan aktivitas fisik dan mental secara perlahan namun pasti, merasa kecil hati dan patah hati, kerja terasa menguras tenaga padahal tidak seberapa, kehilangan minat, alienasi, dan merasa bahwa kegagalan yang dia alami adalah kesalahan di masa lalunya.

Pada kondisi-kondisi tertentu, gejala ini bisa membuat kita mengalami self devaluation. Atau dalam istilah sederhananya: rendah diri. Dan pada pertemuan saya beberapa hari semenjak curhat pertamanya, gejala kerendahdirian itu dapat saya lihat dari sorot matanya. Serius!

Kenapa Mawar kita ini sampai terserang depresi terselubung?

Perhatikan: skripsinya adalah skripsi yang mendapat pujian paling banyak dari dosen paling killer di kampus, bahkan sidangnya hanya berkisar 10 menit saja! Namun kemudian, yang lebih cepat dapat pekerjaan justru yang skripsinya dapat ngorder atau hasil contekan. Mula-mula memang tak terlampau dia pedulikan, tapi lama-lama dia mulai merasa tertekan. Apalagi, beberapa lamaran yang dia layangkan ke bank-bank ditolak.

Tekanan ini mencapai puncaknya ketika kawannya—yang selama ini sama-sama berjuang mencari pekerjaan dengannya—justru mendapat pekerjaan. Ini membuatnya merasa kalah, gagal, sehingga pada akhirnya menghancurkan mentalnya. Apalagi, seperti diungkapkan David J. Lieberman, Ph.D dalam bukunya “Agar Siapa Saja Mau Melakukan Apa Saja Untuk Anda”, bahwa orang menganggur lebih berkemungkinan terserang gejala neurotis. Hal ini disebabkan pikirannya tak terfokus pada pekerjaan atau masalah, sehingga ‘menyerang’ ke dalam dirinya sendiri. (Sebagai catatan: Mawar kita yang satu ini sebetulnya memiliki warung, tapi merasa menganggur karena penghasilannya yang ‘belum seaman’ penghasilan karyawan bank).

Lalu, apa yang mestinya dilakukan?

Menurut Sawitri Supardi Sadarjoen (dan beberapa penambahan alakadarnya dari saya) yang perlu dilakukan adalah:
1. Joging atau berjalan kaki pada pagi hari. Untuk merilekskan pikiran dan badan. Diperkuat oleh David J. Lieberman, Ph.D bahwa kondisi fisiologis (fisik) yang lentur dan tidak kaku/tegang, bisa ‘melenturkan’ kondisi hati/emosi yang sedang negatif. Jadi, jalan-jalan santai bisa membuat kita lebih segar, baik secara fisik maupun mental.
2. Apalagi kalau jalan-jalan santai itu dilakukan di tempat-tempat yang memiliki lanskap alam yang indah. Menghirup udara pagi yang segar, mendengarkan riak air sungai yang jernih, seperti diungkapkan dalam salah satu postingan Erbe Sentanu (Penulis “Quantum Ikhlas”), bisa membantu kita masuk ke kondisi ikhlas.
3. Mencoba melakukan hobi/sesuatu yang disenangi, agar pikiran kita punya fokus dan sesuatu yang harus dia ‘pikirkan’. Sehingga dia tidak menyerang ke ‘dalam diri kita’. Jika kita tahu harus mengejar sebuah bus, tentu kita tidak akan berkeluh kesah kepanasan seperti orang yang hanya berdiri diam di tengah lapangan, bukan?
4. Sujud syukur. Terapi terakhir ini yang—salah satunya—membantu saya melewati masa-masa sulit saya selama beberapa tahun. Sujud syukur setidaknya melatih kita untuk lebih fasih melihat hal-hal baik ketimbang hal-hal buruk, sehingga apapun yang terjadi, kita bisa tetap merasa penuh berkah dan berkelimpahan.
5. Menulis. Menulis adalah terapi yang baik. Menuliskan apa yang membuat kita merasa tertekan, bisa membantu meredakan ketegangan psikis dari masalah tersebut. Kadang malah bisa membantu kita melihat jalan keluar.
6. Namun demikian, kadang self devaluation, yang terlanjur hadir akibat depresi terselubung itu bisa membuat kita terus ‘terpenjara’ dalam ‘perasaan kegagalan’ kita, sehingga pada akhirnya, secara alamiah membuat kita terus-menerus gagal. Untuk itu, kamu harus membangun kembali mental juara kamu! Mental penaklukkan. Taklukkanlah hal-hal kecil kemudian belajarlah untuk yakin bahwa, jika hal itu bisa ditaklukkan, tentu hal yang lebih besar bisa. Kenapa tidak, bukan?

Salam 

Minggu, 26 Juni 2011

Kang Irfan, Saya Benci dengan Keluarga Saya!

Mawar yang ini berteman dengan saya setelah dia membaca buku saya. Setelah berhasil mendapatkan nomor hape saya lewat sebuah usaha yang cerdik, kami saling bertukar sms. Lama kemudian, dia mulai sering share. Katakanlah, keluarganya broken home, yang membuatnya sering main malam. Suatu hari, kakeknya memukul dia sampai—menurut penuturannya, entah benar entah tidak—seluruh badannya memar-memar. Berkali-kali dia bilang, selain ingin bunuh diri, dia juga ingin kabur.

“Kakek saya mukul hanya karena saya ngebentak dia Kang. Atuda suka kesel kalau lagi nonton TV, disuruh-suruh.”

Saya mengurut dada. Berusaha menjelaskan bahwa sikapnya juga tidak baik, kendati tidak menafikan bahwa—jika memang benar—aksi pemukulan sampai memar-memar itu juga tidaklah terlalu baik. Tapi kemudian, mari kita diskusi soal kebencian ini.

Kekerasan kepada anak, kata Kak Seto dalam sebuah surat kabar, diakibatkan oleh orang tua. Kita juga lebih sering merasa kecewa kepada keluarga dibandingkan kepada teman. Kenapa bisa demikian?

Pertama, kepada keluarga, kita mengharapkan dan menuntut lebih, sehingga kita cenderung mudah kecewa. Kepada kakak misalnya, kita ‘tahu’ bahwa dia kakak kita, dan dengan demikian, secara tidak sadar kita mengharapkan sekaligus menuntut dia selalu lebih dewasa daripada kita, mau mengalah terhadap kita, dan lain-lain, dan lain-lain. Akibatnya, ketika si kakak ‘tidak sedang bersikap dewasa’ kita merasa marah.

Kedua, karena kita merasa ‘memiliki’ keluarga kita. Perasaan memiliki ini membuat kita merasa berhak mengatur-atur keluarga kita. Kasus demikian bisa terlihat dari (1) orangtua yang terlalu memaksa anaknya mengerjakan apa yang dia inginkan, memaksa anaknya jadi imitator dirinya, atau (2) kakak yang terlalu mengekang adiknya untuk mengerjakan ini dan itu, dan (3) seorang adik yang memaksa orang tua dan kakak untuk membiarkan dia melakukan apapun walaupun itu salah.

Ketika semua itu tidak terpenuhi, kita akan menuduh keluarga kita tidak adil, orang tua kita tidak adil, kakak kita tidak asyik, atau jika kamu sudah menjadi orang tua, anak kita keras kepala. Bagi anak-anak seusia remaja, hal ini akan melahirkan perasaan kecewa. Mereka akan merasa kehilangan. Kemudian merasa tidak diperhatikan, merasa sendirian, yang sejatinya akan melahirkan sebentuk kebencian.

Karena itu, komunikasi yang hangat diantara sesama keluarga mutlak diperlukan. Di era teknologi informasi seperti sekarang, dimana tontonan dan game merangsang anak muda berlaku lebih ekspresif sekaligus agresif, peran kehangatan orangtua sangat menunjung terbangunnya keseimbangan.

Dalam acara penganugerahan piala kumon dimana saya menemai keponakan saya yang menjadi 1000 siswa terbaik Kumon diantara 12.000 siswanya, filosofi belajar Lembaga Pendidikan asal Jepang itu satu: bahwa anak-anak jangan dipaksa untuk mengerjakan, tapi didorong, diberi pengertian, dan ditemani.

Pada akhirnya mungkin yang harus ada dalam keluarga adalah cinta. Percaya atau tidak, kehangatan inilah yang akan mula-mula mempengaruhi tumbuh-kembang anak-anak.

Senin, 20 Juni 2011

Kang Irfan, Bantu Saya Milih Fakultas yang Pas dong!

Bagi mereka yang baru lulus, memilih jurusan kuliah adalah momok yang agak menakutkan. Apalagi jika menyangkut masalah SNMPTN beserta segala kemungkinannya. Mawar kita yang satu ini berada dalam kondisi yang demikian: sangat berobsesi masuk fakultas kedokteran, namun agak bimbang setelah tidak lulus SNMPTN Undangan. Guru-guru di bimbelannya menyarankan, jika dia memang ingin masuk fak. Kedokteran, ambil saja pilihan yang di luar pulau Jawa, sehingga passing gradenya kecil.

Saya: Sebentar, jadi untuk pilihan 1, apa saja?
Dia: Fak. Kedokteran Kang sama Fak. Kedokteran gigi. Tapi Fak. Kedokteran gigi sebenarnya tidak terlalu sreg. Pengennya kedokteran. Tapi takut, Kang.
Saya: Terus pilihan kedua?
Dia: Mungkin ngambil STAN, atau Biologi UPI, atau MIPA ITB.
Saya: Nah, menurut saya, lebih baik pilihan 1 adalah memang yang sesuai kehendak hati kita, misalkan Fak. Kedokteran UNPAD. Nah, di pilihan yang kedua baru aja pilihan yang sesuai dengan hati namun passing gradenya agak kecil.
Dia: Tapi bagaimana kalau tidak lulus?
Saya: Daripada maksain diri karena takut nggak lulus terus milih Fak. Kedokteran Gigi. Hayo? Nah, bagaimana kalau ternyata nanti hasil SNPMTN-nya malah lulus? Hayo? Rugi kan? Pasti nyesel kenapa nggak milih kedokteran.
Dia: iya juga sih....
Saya: Kan kamu masih agak ketakutan gara-gara nggak lulus SNPMTN Undangan, makanya jadi nggak yakin. Coba deh kondisikan dulu hatinya. Inget-inget prestasi yang pernah diraih, bagaimana itu semua “MUNGKIN” kemudian yakinin dalam hati bahwa jika semua prestasi itu “MUNGKIN” kenapa masuk ke Kedokteran menjadi “TIDAK MUNGKIN?”
Dia: itu selalu kang, selalu aku lakuin....
Saya: Bagus. Kalau begitu, menurut saya, lebih baik pilihan 1 Fak. Kedokteran. Risiko terburuknya jelas, tidak lulus. Tapi lihat kemungkinan terbaiknya? Daripada maksain di Fak. Kedokteran gigi dengan setengah hati. Toh risiko terburuknya tetap saja sama, tidak lulus. Nah, baru di pilihan dua, kamu harus lebih selektif. Mana diantara semua itu yang kamu inginkan?
Dia: Hmm, biologi UPI atau MIPA ITB.
Saya: Nah, nggak apa-apa, ayo silakan milih.  Lagipula, kalau risiko terburuknya nggak lulus, kan kamu masih bisa ikutan tahun depan, bukan?
Dia: Iiih si Akang mah....
Saya: ahahahaha

Cat: Setiap pilihan mengandung risiko, tapi tidak semua risiko itu bersifat ‘tak terukur’. Beberapa risiko memang ‘terukur’, sehingga kita tidak perlu lantas menjadi takut mengambil risiko yang semacam itu. Konon, kata orang bijak, orang-orang sukses adalah mereka yang berani mengambil risiko (yang terukur). Namun demikian, kesuksesan dalam keberanian mengambil risiko itu disertai pula dengan strategi agar risiko yang besar itu tidak menjadi hambatan, alih-alih justru jembatan kita meraih kesuksesan.  Selamat memilih, selamat menentukan pilihan.

Kang Irfan, Apakah Saya Harus Terus Mengalah?

Mawar: Pacar saya kadang egois, saya selalu terpaksa mengalah, diam saja daripada terjadi pertengkaran. Tapi gara-gara itu, saya sering merasa tertekan, sampai akhirnya menangis dan menangis sendirian.

Hubungan antarmanusia, dalam skala dan jenis apapun, sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi. Karena itu, barangkali yang diperlukan disini adalah kesalingmengertian. Sikap keterbukaan adalah hal yang mutlak dilakukan. Mengalah memang baik, tapi jika dilakukan dengan keterpaksaan sampai ‘makan hati’, malah akan membuat cinta yang mestinya membahagiakan malah menyengsarakan.

Oleh karenanya, diperlukan sikaf asertif yang memadai. Kamu harus bisa mengkomunikasikan setiap masalah, setiap kesalahpahaman, sehingga kedua pihak bisa saling mengerti. Daripada dipendem malah jadi bumerang, sewaktu-waktu. Memang kadang kita balik bertanya dengan sengit, “Tapi pacar saya egois, dia nggak mungkin bisa ngerti!”

Perhatikan: orang yang pacaran, biasanya ‘mengharapkan’ dan ‘menuntut’ lebih kepada pasangannya, sehingga kita rentan merasa ‘kecewa’. Kita tidak menuntut banyak pada teman, sehingga ketika sikap dia bernilai 7 bagi kita, kita tak merasa kecewa. Tapi berbeda dengan pacar, kita menuntut mereka untuk dapat bernilai 10, nilai sempurna, sehingga sedikit saja salah, kita merasa kecewa, tidak diperhatikan, dicuekin, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Memang ada kalanya kita harus mengalah, bersabar, tapi itu tidak sama artinya dengan membiarkan masalah terpendam dalam hati kita. Yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang bagi kita dan hubungan kita. Kira-kira begitu.

Kang Irfan, Pacar Saya Posesif!

Mawar: Duuuuh pusing deh, kemana-mana ga boleh, kumpul sama temen harus selalu bareng dia. Pasword facebook juga dia yang pegang, alasannya takut saya macem-macem ceunah?

Saya: hmm, memang cerita yang seperti ini klasik. Tapi coba perhatikan: sikap posesif biasanya lahir (atau timbul) dari perasaan takut kehilangan. Perasaan takut kehilangan biasanya lahir dari perasaan memiliki. Jadi dalam beberapa hal, segalanya memang berjalan alamiah. Karena itu, barangkali, agar kita tidak menjadi posesif, kita harus sadar bahwa cinta adalah menyoal memberi, dan bahwa kekasih kita bukanlah seseorang yang kita miliki, melainkan lebih daripada itu, seseorang yang kita beri kasih sayang. Memang ‘keikhlasan’ semacam ini, bahwa cinta adalah saling memberi dan bukannya saling memaksa, saling merenggut, menjadi agak sulit, bahkan bagi sebagian orang terkesan utopis. Letto bilang dalam salah satu lagunya, “Merasa kehilangan hanya akan ada, bila kau pernah merasa memilikinya.”

Posesif sendiri, akibatnya, bisa digambarkan dalam sebuah percobaan fisika sederhana: menekan mangkuk terbalik ke dalam air. Semakin keras kamu menekan mangkuk itu, semakin keras pula usaha sang mangkuk dalam melawan. Kan begitu? Nah posesif juga demikian: semakin posesif seorang kekasih, semakin mendorong pasangannya untuk ‘melawan’. Perlawanan itu bisa berupa, kemudahan terjadi perselisihan, atau bahkan perselingkuhan.

Apalagi jika dalam hubungan itu terjadi kegiatan-kegiatan yang sebetulnya, baik secara moral agama maupun budaya ketimuran kita, dilarang. Semakin ‘jauh’ batas wilayah itu dilewati, akan semakin rentan pula hadirnya gejala yang lebih buruk dari sekedar posesif, yakni paranoid state. Ketika misalnya, kamu ‘biasa’ berciuman dengan pacar kamu, maka ketika dia bersama teman-teman cowoknya, akan ada pikiran begini: dengan saya saja dia biasa ciuman, bagaimana kalau begitu juga dia dengan kawan-kawannya?

Nah, kamu boleh menganalogikannya ke dalam hal yang lebih jauh.

Apa yang dialami Mawar, dialami juga oleh banyak pasangan belia. Tapi entah dengan yang terjadi padamu. Apa juga begitu?