Minggu, 18 September 2011

SWOT Gitu Loh (Bag. 4) #Threat


Sedangkan threat atau halangan, ancaman, rintangan, adalah sesuatu yang sering kita kambinghitamkan untuk kegagalan atau kekalahan kita.

Misal, suatu hari Ujang si Santri saya bonceng. Dalam boncengan itu dia bercerita, “Mang Haji, sayah mah mau ngaji juga susah bener. Harus bolak-balik ke rumah buat ngurus keponakan sayah yang masih bayi. Orangtuanya jadi TKI. Makanya oranglain sudah hafal bait mana, sayah mah masih belum juga.”

Padahal, kita semua memiliki rintangan sendiri-sendiri. Kalau kita berpikir rintangan hidup kita telah secara tidak adil membuat kita kalah, berarti kita kurang berjuang keras. Kita bisa menyalahkan orangtua kita yang miskin sehingga kita gagal. Tapi orang yang kaya juga bisa menyalahkan kurangnya perhatian orangtua sehingga mereka terjebak narkoba.

Kalau rintangan kita berupa jarak yang jauh ke sekolah, berarti kita harus bangun lebih pagi. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Kalau rintangan kita berupa tidak mampu beli buku, berarti kita harus jadi pengunjung tetap dan rutin perpustakaan daerah. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Kalau rintangan kita berupa lingkungan yang tidak kondusif, maka mau tidak mau kita kuat melawan arus.

Kalau boleh main ibarat, threat itu kayak lawan kita di arena gladiator. Mungkin satu hari kita ‘beruntung’ mendapat lawan yang kurus kering belum makan satu bulan, tapi siapa tahu esok lusa kita mendapat lawan raksasa bertubuh gagah bertanduk menjangan. Tapi siapapun lawan yang ‘dipilihkan’ untuk kita, kita tetap harus mampu mengalahkannya jika tetap ingin HIDUP.

Dalam banyak kisah sukses, salah satu kiat menyiasati rintangan itu adalah menjadikannya kesempatan. Melawan seorang yang bertubuh tegap bak raksasa bertanduk menjangan memang tidak bisa dengan sebuah pukulan langsung. Mungkin kita harus berlari ke sudut-sudut tertentu, membuat dia pusing mencari-cari kita, berbalik dan terus berbalik sampai urat lututnya putus. Siapa tahu bisa demikian. (sebenarnya, trik tadi terinspirasi dari film Samurai X, hihihi).

Lagipula, rintangan adalah kesempatan kita menguji kemampuan diri, kemantapan hati, keteguhan jiwa. Rintangan adalah kesempatan bagi kita menaikkan level diri, kelas diri. Rintangan adalah kesempatan kita untuk berjuang lebih keras dari yang kita pikir mampu kita lakukan. Apapun rintangannya, minumnya tetap air putih sajaaah. Ahaha.

SWOT Gitu Lho (Bag. 3) #Opportunity


Seperti kata teori konvergensi: karakter seseorang itu dipengaruhi oleh potensi bawaan dan lingkungan. Jadi, dalam ‘menemukan’ cita-cita yang ‘sesuai’, selain harus mengenal diri kita sendiri dengan baik, kita harus juga bisa melihat ‘lingkungan’, faktor-faktor eksternal di luar diri kita.

Dalam konteks faktor eksternal, dalam postingan ini, kita akan membahas opportunity.

Opportunity berarti kesempatan. Sedangkan kesempatan seringkali dikaitkan dengan sesuatu yang menguntungkan, mendukung, dan menggembirakan kita. Kesempatan juga sering dikaitkan dengan pintu atau peluang meraih kesuksesan, mencapai satu target tertentu.

Misal, bagi seorang maling, pintu rumah yang tidak dikunci dan ditinggalkan pemiliknya adalah ‘kesempatan’ dia untuk mencuri. Atau, tawaran untuk memimpin sebuah kelompok atau berbicara di depan umum, bagi orang-orang tertentu, adalah kesempatan untuk melatih karakter dan kekuatan mental.

Tapi, wajah-wajah kesempatan tidak selalu dapat dilihat dengan jelas. Lebih sering tersembunyi. Kekurangcepatan kita atau kekurangmampuan kita dalam melihat wajah-wajah itu menyebabkan kita akrab dengan kata ‘kehilangan kesempatan’ ‘menyesal’ ‘hanjakal’ ‘coba dulu saya gini... pasti gitu....’ ‘Sayang sekali saya tidak menghafal tadi malam....’

Lebih jauh lagi, menyoal kesempatan, manusia terbagi ke dalam tiga golongan:
1. Orang yang menyia-nyiakan kesempatan. Mereka yang menyia-nyiakan waktu dan kesehatan, umur dan uang, otak dan hati.
2. Orang yang menunggu kesempatan datang. Mereka yang duduk diam menunggu menang lotere tapi lupa caranya membeli kupon lotere.
3. Orang yang membuat, mengkondisikan, agar kesempatan itu datang. Dia tahu bahwa perubahan sikap, bisa mendatangkan perubahan nasib. Jika pintu tak jua tersedia, dia akan membuatnya. Jika pintu masih saja ditutup, dia akan berusaha membukanya.

Menyoal kesempatan ini, hadist Rasulullah bisa dengan tepat kita jadikan penutup: ingatlah lima perkara sebelum lima perkara. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin. Lapang sebelum sempit. Sehat sebelum sakit. Hidup sebelum mati.

Hari ini adalah hadiah, adalah kesempatan. Manfaatkan apapun yang kamu miliki, jadikan semuanya pijakan, jadikan semuanya kesempatan kamu untuk terus memperbaiki diri sehingga kamu layak untuk menjadi apapun yang kamu inginkan.

SWOT Gitu Lho! (Bag. 2) #Weakness


Sekarang, mari kita sedikit kritis. Apa saja sifat, watak, sikap kamu yang kamu rasa menjadi kekuranganmu?

Apakah kamu termasuk seorang yang pandai tapi malas? Ataukah seorang yang hebat tapi suka menunda? Apakah kamu seorang yang mudah marah, ataukah justru pribadi yang sering mengeluh? Bagaimana dengan kesempatan yang datang—apakah kamu termasuk orang yang bilang, “Ya, saya pikir saya bisa!” Kendati kamu masih ragu mengenai itu? Ataukah kamu termasuk orang yang bilang, “Ah saya tidak bisa, tidak pantas, biar orang lain saja....”

Apakah kamu termasuk seorang yang pandai menerima kritik ataukah fasih mencibir orang? Ataukah kamu seorang yang selalu mau belajar dan bukannya seorang yang mudah puas? Bagaimana ketika ada halangan atau rintangan, apakah kamu akan menyiasatinya ataukah mundur?

Sekarang, katakan pada saya, apakah kamu sudah tahu akan menjadi seperti apa satu tahun ke depan? Dua tahun kemudian? Besok lusa? Ataukah mungkin kamu bisa katakan pada saya, bahwa kamu lebih menyukai menyimpan dendam ketimbang duduk tenang menyelesaikan masalah?

Weakness adalah segala macam hal-hal yang mendorongmu untuk menjadi yang “kurang” atau “standar”. Apakah dirimu masih akrab dengan kata “kurang beruntung” “kurang pandai” “kurang cepat” “kurang sigap” “kurang fokus” “kurang ngotot”? Atau barangkali dirimu itu masih akrab dengan kata “yah standarlah” “biasa-biasa saja” “sama saja” “nggak bagus” “imitasi” “emas sepuhan”.

Jika kamu masih akrab dengan kata “kurang” dan “standar” itu artinya ada sesuatu yang mesti kamu perbaiki. Jika kurang bersyukur berarti tingkatkanlah saldo syukur kamu setiap waktu. Jika tabungan amalnya masih standar, perbanyaklah ibadah biar ‘bunga’ dari ibadahnya berlipat ganda.

Kemampuan kita mengenali kelebihan mendorong kita untuk memanfaatkannya! Sedangkan kemampuan kita mengenali kekurangan diri sendiri mendorong kita memperbaikinya.

Kemudian, kemampuan kita mengenali kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri akan mendorong kita untuk menyiasati keduanya agar menjadikan kita pribadi unggul, satu diantara seribu, ahsani takwim, insan kamil, sebaik-baik manusia.

Jika sudah begitu, kamu bisa melihat lebih jelas cita-cita yang “sesuai” dengan diri kamu. Dan, kemudian, yang kita perlukan adalah melihat dua faktor eksternal—opportunity dan threat. Pada posting berikutnya yaa.... 

SWOT Gitu Loh! (Bag. 1) #Strenght


Mawar ini berusia 17 tahun. Tiba-tiba saja berkata pada saya begini, “Saya tiba-tiba nangis pagi ini, karena saya sadar saya tidak tahu ingin jadi siapa kelak nanti. Apa itu cita-cita? Cita-cita kamu apa, Fan?”

Saya menjelaskan panjang lebar mengenai cita-cita saya yang tak kesampaian: menjadi kiper Manchester United, menjadi pemeran Rangga, menang 1 miliyar di kuis Who Wants to Be a Millionaire, Keliling Dunia Maya, Berfoto bareng Asmirandah, Duet dengan Christina Aguilera, Salaman dengan Mahmud Ahmadinejad, dan lain-lain, dan lain-lain.

Tanpa tertarik dengan selera humor saya, Mawar itu lanjut bertanya, “Bagaimana caranya saya harus punya cita-cita?”

Ada beberapa, jawab saya, kini agak serius. Tapi untuk sekarang, saya jelaskan SWOT aja ya....

SWOT adalah kependekan dari Strength, Weakness, Opportunity dan Threat. Dua kata pertama (Strenght dan Weakness) adalah faktor internal. Sedangkan Opportunity dan Threat adalah faktor eksternal.

Strenght dan Weakness
Begini, untuk punya cita-cita, yang katakanlah “sesuai” dengan “diri” kita, kita harus tahu dulu siapa diri kita sebetulnya. Untuk tahu siapa diri kita, mula-mula kita harus bisa “melihat” apa saja kelebihan/kekuatan/potensi (strenght) kita, dan apa saja kelemahan/kekurangan (weakness) kita.

Kelebihan/kekuatan/potensi biasanya diwakili oleh kata-kata hebat ini: bakat, minat, keterampilan. Bakat adalah sesuatu yang kita miliki secara alamiah, bawaan sejak lahir. Sedangkan minat adalah satu/lebih hal/bidang tertentu yang kita sukai. Sedangkan keterampilan adalah kemahiran yang lahir karena belajar.

Sekarang, tuliskan minimal sepuluh bakat yang kamu rasa kamu miliki. Hal-hal, kelebihan-kelebihan yang kamu rasa memang kamu miliki sejak lahir. Ada seseorang yang memang terlahir untuk menjadi pemain sepak bola. Apakah kamu salah satunya? Atau mungkin kamu akan menjadi Riri Riza generasi baru? Ayo, jangan takut, jangan ragu. Jujurlah, jujur saja. Apa sebetulnya bakat yang kamu miliki?

Kemudian, tuliskan minimal sepuluh minat kamu. Minat berhubungan dengan ‘rasa cinta’ dan ‘nyaman’. Kamu meminati basket karena kamu mencintai olah raga itu dan merasa nyaman ketika berada di lapangan, mendribling bola dst. Atau mungkin kamu termasuk orang yang merasa hidup hanya ketika menulis puisi? Emm, bagaimana kalau ternyata kamu selalu merasa nyaman ketika bekerja mengatur sebuah pertunjukkan, memerah keringat memastikan semua orang puas dengan hasil kerjamu? Tuliskan, tuliskan saja semuanya. Keluarkan!

Setelah itu, tuliskan keterampilan yang kamu miliki. Apakah kamu sudah bisa menyetir? Bagus, tuliskan! Atau bagaimana dengan mendesain foto atau memproduksi gambar-gambar komik? Bisa jadi. Masukkan saja! Nah, soal menulis partitur lagu, apakah kamu juga terampil? Oh ya? Bagus. Tuliskan saja, tuliskan saja!

Nah, sampai di sini, melihat satu-persatu bakat kita, minat kita, keterampilan kita, akan membantu kita melihat dengan jelas cita-cita yang “sesuai” dengan kita. Saya tidak punya bakat menulis tapi saya suka menulis apakah saya bisa jadi seorang penulis? Tentu saja. Kerjakan apa yang kamu sukai, belajar sambil jalan, mau otodidak atau ikut workshop tak mengapa, lama-lama kamu pasti jadi penulis—asal tetap yakin. Saya punya bakat sepak bola tapi tidak tahu harus bagaimana. Cobalah ikut ekstrakurikuler sepak bola, masuk sekolah sepak bola kalau bisa. Dekatkan seseringmungkin diri kamu ke ‘jalur’ sepak bola, insya Allah akan ada jalan. Saya terampil mengolah foto dan menggambar. Kalau begitu, buka kesempatan menjadi seorang desainer grafis! Jangan ragu-ragu!

Tapi, saya tidak tahu apa bakat saya, saya tidak tahu apa minat saya, saya juga tidak merasa punya keterampilan!

Kalau begitu, kamu perlu memberi lebih banyak kepercayaan kepada dirimu sendiri. Jangan terlalu rendah menilai diri. Jangan terlalu kritis. Apresiasi saja. Itu sudah cukup. Sekarang, silakan tuliskan!

Senin, 08 Agustus 2011

Cemburu Menguras Bak Mandi (2): 5 Tips Mengatasi Cemburu

Cemburu Menguras Bak Mandi (2): Tips Menangani Cemburu

Ini dia lima solusi jitu menangani cemburu:
1. Berbaik sangka. Sikap ini, selain berpahala karena merupakan sunnah nabi, juga menentramkan hati. Ketika sang ayah lebih banyak di kantor daripada di rumah, sang anak diajar berbaik sangka bahwa itu semua demi keluarga. Ketika ada sms masuk nyasar, kita berbaik sangka bahwa itu memang benar-benar nyasar. Ketika tidak diajak korupsi, berbaik sangkalah bahwa kolegamu di partai menghendakimu masuk surga.
2. Saling menjaga kepercayaan. Setia. Dalam konteks yang luas. Setia sebagai makhluk rahmatan lil alamiin. Setia sebagai kepala keluarga yang hangat dan bertanggung jawab. Setia sebagai suami/istri yang saling memuliakan pasangan. Setia sebagai sahabat. Kesetiaan mendatangkan kedamaian, tidak melahirkan perasaan bersalah. Ketika kita menjaga kepercayaan oranglain pada kita, moral kita akan merasa nyaman, hati kita akan tentram. Sebaliknya, ketika kita berkhianat, maka... bukan hanya orang yang percaya pada kita saja yang disakiti, tapi juga diri kita sendiri.
3. Carilah kesibukan. Mereka yang sibuk, memiliki pekerjaan, tujuan hidup, mimpi-mimpi, akan membuat pikiran mereka ikut pula sibuk berpikir, merancang rencana dan strategi, mengantisipasi halangan, menyiasati rintangan, sehingga dia (si pikiran) itu tidak memiliki waktu untuk menyerang ke dalam, menyerang diri kita sendiri. Akibatnya, ketika ada sesuatu yang merangsang kita untuk cemburu, kita tidak akan memiliki cukup waktu untuk ‘menghayatinya’ sehingga rangsangan itu tidak membuat kita terlampau cemburu.
4. Berbeda dengan orang yang pikirannya tidak punya kesibukan. Ketika rangsangan itu datang, pikirannya akan berfokus pada rangsangan itu, menghayatinya, bahkan tak jarang menambah-nambahinya, sehingga dia bergelut dengan rasa sakitnya sendiri, dengan kecemburuannya sendiri.
5. Disarankan pula, setiap kali cemburu untuk menguras bak mandi. Setidaknya ada beberapa rujukan mengenai hal ini:
a. Didasarkan pada lagu Vidi Aldiano, “Cemburu Menguras Hati”. Oleh karena itu, ketika cemburu menguras isi hati Anda, Anda kuraslah pula isi bak mandi Anda biar kedua-duanya bersih.
b. Didasarkan pada lagu Padi “Terbakar Cemburu”. Bahwa cemburu itu bersifat membakar, jadi kuraslah bak mandi agar airnya bisa memadamkan api cemburu itu.
c. Didasarkan pada wejangan dan sosialisasi pemerintah, bahwa menguras bak mandi secara teratur menjaga Anda dari kudas, kutu air, panu, dan demam berdarah. Karena itu, selamatkanlah diri Anda dan keluarga. Ingat, penyakit tidak datang karena ada niat dari si kuman, melainkan karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!

Cemburu Menguras Bak Mandi (1): 10 Fakta Menarik tentang Cemburu


Cemburu Menguras Bak Mandi (1): Sepuluh Fakta Menarik tentang Cemburu

Ini dia sepuluh fakta menarik mengenai cemburu.
1. Cemburu biasanya menjadi bukti kalau kita ‘mencintai’ sesuatu/seseorang. Misal, seorang anak yang cemburu pada orangtuanya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Atau seorang politikus yang cemburu saat ‘tidak diajak’ korupsi berjamaah oleh rekan separtainya. Atau seorang perempuan yang sampai naik darah dan jerawatan hanya karena sms yang nyasar ke handphone pacarnya (mirip lagu “bang sms siapa itu bang” itu lho...). Hal-hal semacam itu, ketidaksenangan itu, ketidakmauterimaan itu, merupakan ekses dari adanya perasaan mencintai dalam diri kita.
2. Cemburu tidak peduli pada fakta. Mau faktanya A atau B, kalau sudah cemburu apa mau dikata. Karena itu, cemburu dapat dikatakan membuat seseorang keras kepala. Kalau kawan lagi cemburu buta, biasanya nasehat orang lain terdengar seperti omong kosong.
3. Cemburu merupakan pertarungan dalam pikiran. Pertarungan ini melibatkan tarik-ulur perasaan dalam hati. Oleh karenanya sangat menggelisahkan dan rentan menimbulkan perselisihan. Pertaruangan dalam pikiran ini juga tarik-ulur perasaan dalam hati, akan melahirkan sebentuk persepsi, cara pandang, cara bersikap. Inilah yang menyebabkan fakta apapun yang terjadi, kalau persepsi yang dibentuk sudah begitu, ya susah. Misal, Mawar marah besar pada Ujang sampai bertekad bunuh diri hanya karena Ujang mengomentari status Minah, mantan Ujang yang ada di kampung.
4. Cemburu itu melelahkan. Benar. Karena cemburu merupakan pertarungan dalam diri kita sendiri (dalam pikiran dan hati), maka walaupun kita tidak bergerak kemanapun, cemburu tetap akan menguras tenaga kita. Mau tidur susah, mau makan nggak nafsu, mau nelepon gengsi, mau baikan... tahan harga, mau marah-marah... capek, mau ngelabrak... ujung-ujungnya malu, mau neror... repot sendiri jadinya (apalagi kalau nggak diladenin). Huh! Bete!
5. Apakah cemburu mempengaruhi kesehatan? Ya! Karena cemburu mempengaruhi kondisi psikis kita, maka kondisi psikis kita akan mempengaruhi kondisi tubuh kita. Misal, seorang pesakitan yang rajin tersenyum berpeluang lebih cepat sembuh ketimbang seorang pesakitan yang cemberut terus-terusan. Hayoh!
6. Cemburu bisa menimbulkan sikap paranoid. Karena Mawar cemburu pada Minah, maka Mawar selalu paranoid kalau si Ujang pulang ke kampung halaman. Walaupun di kampung, Ujang sibuk nyawer dan menampilkan organ tunggal, toh Mawar curiga kalau Ujang pasti ngedeketin Minah. Hancurlah minah! Seorang Mawar, sahabat saya, bahkan harus menelepon pacarnya tiap 1 jam sekali, tidak boleh bekerja, dan tidak boleh sms-an dengan cowok. Lihatlah!
7. Cemburu bisa mendatangkan lapangan pekerjaan. Tidak percaya? Cek saja! Banyak pria/wanita yang rela tidak dibayar, bekerja sebagai ADMIN facebook/twitter pasangannya, hanya karena takut pada aktivitas pasangannya di dunia maya. Pekerjaan ini terbilang menyenangkan. Karena, selain hanya memblokir pertemanan orang-orang yang ngecengin, menolak friend request, melabrak yang ngajak chatting tapi centil, mengupload foto saat berduaan, mengganti status hubungan menjadi “menikah” atau “bertunangan”. Dan lain-lain.
8. Cemburu itu manusiawi. Benar. Karena hanya manusia yang diberi akal sekaligus nafsu, maka hanya manusia yang merasakan tarik-ulur antara dua kutub itu—akal dan nafsu itu. Cemburu bisa menunjukkan perasaan cinta kita. Cemburu juga bisa menjadi dinamika yang menyenangkan dalam hidup kita.
9. Cemburu memiliki dua kekuatan utama. Pertama, perasaan (dan pikiran di dalamnya). Kedua, prasangka. Kedua kekuatan ini merupakan ‘energi’. Semakin besar kumparan ‘energi’nya, semakin besar pula ‘daya tarik’nya terahdap apa yang ditakutkan oleh perasaan, apa yang diprasangkakan. Misal, Mawar yang cemburu pada Minah, bisa jadi malah mendorong Ujang—secara tak sadar, secara alamiah dalam konteks kinerja Hukum Tarik-Menarik Alam Semesta—membuat Ujang akan menemui Minah. Ingat ini: kita cenderung lebih tertarik pada apa yang dilarang. Hehehe.
10. Jadi, cemburu membuat kita sudah jatuh ketiban genteng pula. Sudah mah perasaan kita galau, kemungkinan apa yang kita takutkan terjadi juga besar. Jadi, bagi kamu yang dengan sengaja/tidak sengaja menimbulkan kecemburuan dalam diri orang lain—entah itu anak kita, adik kita, pasangan kita—sebaiknya ikut pula memadamkan apinya.

Rabu, 06 Juli 2011

Pada Usia Seperti Saya, Wajar Tidak Kalau Saya Merasa Tidak Diperhatikan Keluarga?

Keluarga adalah pilar penting kehidupan. Tumbuh kembang seorang anak, sangat bergantung pada sikap keluarga dalam mendidiknya. Secara umum, keluarga yang hangat dan penuh kasihlah yang pada akhirnya membantu si anak mendapatkan ‘kestabilan’ mental dalam pergaulan. Anak-anak yang sering dibentak akan mengalami tekanan batin, sehingga kadang terkucil dari pergaulan. Anak-anak yang tidak pernah diberi perhatian, cenderung mencari perhatian di luar. Dari prolog singkat itu, kita sampai pada pertanyaan kawan saya, Mawar, berusia 22-23 tahun. Begini, “Saya pikir keluarga tidak akan menyakiti. Tapi ternyata sama saja. Saya memutuskan untuk kabur!”

“Saya tidak akan melarang kamu untuk kabur, karena itu sepenuhnya hak kamu. Hanya saja, seberapa buruk pun kondisi di rumah, di luar juga belum tentu aman. Saya cuma berharap, langkah apapun yang mau kamu ambil, sudah kamu hitungkan masak-masak risikonya. Bagaimanapun, kan nantinya kamu juga yang ngejalanin hidup kamu, bukan?”

Keesokan harinya, Mawar curhat lagi. Dia tidak jadi kabur, seperti yang saya duga. Dan kemudian bilang: saya tidak jadi kabur, tapi di rumah juga semakin tidak nyaman. Ibu sama ade pada pergi maen, pulang-pulang udah pada kenyang, tapi saya nggak pernah diajakin. Curhat sama pacar saya, dia bilang saya pundungan, kayak anak kecil. Apa benar begitu?”

“Tidak, kan pada dasarnya setiap orang, usia berapapun memiliki kebutuhan untuk ‘disadari’ bahkan ‘dihargai’ keberadaannya. Apalagi oleh keluarga. Karena itu, wajar kalau kamu ngerasa tidak diperhatikan, kalau kamu ngerasa dikucilkan. Yang menjadikan itu sikap yang kekanak-kanakkan adalah ketika, karena perasaan keterkucilan semacam itu, kita jadi mogok makan, nggak mau ngomong, dll. Padahal, kejadian semacam itu bisa kita jadikan pelajaran untuk lebih dewasa. (Bukankah kita semua belajar dari ‘rasa sakit’?)

Coba perhatikan ini: sebetulnya kita tidak memiliki apapun di dunia ini. Bahkan ‘diri’ kita pun milik Tuhan. Jadi apalagi keluarga kita? Mereka juga hanyalah orang-orang ‘asing’. Yang lewat takdir Tuhan memiliki kekerabatan sangat dekat dengan kita. Pada akhirnya, kita hanya harus menyadari bahwa kita tidak boleh terlalu menuntut dan mengharapkan lebih kepada siapapun, termasuk kepada keluarga kita sendiri. Karena bagaimanapun, bahagia tidak boleh digantungkan pada sikap atau tindakan orang lain. Misal, kita hanya akan merasa bahagia kalau keluarga kita memerhatikan kita. Jangan!

Kita harus lebih bisa belajar mensyukuri apa yang ada ketimbang memaksa orang lain untuk melakukan apapun yang kita minta (tanpa rasionalitas). Pada akhirnya, kita harus belajar untuk lebih dewasa. Orang lain boleh menyakiti kita, tapi usahakan kita lebih banyak memberikan kebahagiaan kendati kemuramdurjaan. Orang boleh tak jujur dan adil, tapi menjadi orang yang baik—secara moral—selalu menjadi pilar utama kebahagiaan.

Itu!

Salam 